Notification

×

Iklan

Sulampua Bertransformasi Jadi Hub Logistik Global, Efisiensi Biaya Ditargetkan Turun 30 Persen

Monday, January 19, 2026 | 15:29 WIB Last Updated 2026-01-19T07:29:10Z
Forum Grup Discussion di Aula Kantor Keuangan Negara, Manado, Senin (19/01).

MANADO
, Komentar.co -
Kawasan Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) resmi memulai langkah strategis transformasi menuju Global Logistics Hub melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Kantor Wilayah Bea dan Cukai Sulawesi Bagian Utara bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Senin (19/01/2026) di aula Gedung Keuangan Negara, Manado.

Forum yang dihadiri langsung Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Yulius Selvanus Komaling (YSK) ini bertujuan memperkuat konektivitas dan efisiensi logistik guna mendongkrak daya saing ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Pada kesempatan itu, Gubernur Yulius Selvanus menyampaikan bahwa ekonomi wilayah Sulampua menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan di kisaran 5,5 hingga 6 persen, di mana Sulawesi Utara (Sulut) stabil pada angka 5 hingga 5,6 persen.

Menurutnya, meski memiliki basis ekonomi riil yang kuat dan menyumbang devisa ekspor hingga 30 miliar dolar AS per tahun atau sekitar 18 persen dari total ekspor nasional, kawasan ini masih menghadapi tantangan besar pada jalur distribusi.

Hingga saat ini, kata orang nomor satu di Sulut ini, arus ekspor dan impor dari Sulampua masih sangat bergantung pada pelabuhan dan bandara di Pulau Jawa dan Bali.

Pola distribusi yang memutar ini menyebabkan waktu tempuh pengiriman ke pasar utama Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan mencapai 25 hingga 30 hari.

Selain memperpanjang rantai distribusi, kondisi ini mengakibatkan biaya logistik yang tinggi dan nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati oleh wilayah di luar asal komoditas.

Untuk itu, top eksekutif Sulut ini menyebut bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) menekankan pentingnya optimalisasi Pelabuhan Bitung yang telah ditetapkan sebagai simpul pengembangan logistik nasional. Dengan posisi geografis di jalur utama perdagangan Asia Pasifik, Sulut memiliki keunggulan jarak tempuh yang signifikan.

"Agenda utama kita adalah bagaimana bersama-sama mengefisiensikan sistem logistik Kawasan Sulampua. Pengembangan layanan direct call (pelayaran langsung) dari Sulawesi Utara berpotensi memangkas waktu pelayaran dari 30 hari menjadi hanya 7 hingga 10 hari saja," kata Gubernur Yulius.

Transformasi ini, lanjut Gubernur YSK, diprediksi mampu menekan biaya logistik antara 20 hingga 30 persen. Efisiensi tersebut diharapkan dapat menurunkan harga barang di tingkat konsumen serta meningkatkan daya beli masyarakat di wilayah Timur.

Sementara, dari sisi kesiapan infrastruktur, Pelabuhan Bitung kini telah dilengkapi fasilitas peti kemas internasional, sementara Bandara Internasional Sam Ratulangi mulai didukung oleh layanan pesawat kargo rutin dari negara-negara Asia Timur.

"Sektor pergudangan, pusat distribusi regional, dan layanan kapal pengumpan (feeder) juga diproyeksikan akan tumbuh seiring terbentuknya ekosistem ini," jelasnya.

Namun, YSK mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi ini memerlukan kolaborasi lintas sektor.

Seluruh pihak, mulai dari instansi vertikal seperti Bea Cukai, Imigrasi, dan Karantina, hingga dukungan keamanan dari TNI/Polri dan Kejaksaan, diharapkan dapat memberikan "karpet merah" bagi investor melalui pelayanan yang cepat, pasti, dan ramah.

"Pelaku usaha yang tergabung dalam APINDO dan Kadin juga didorong untuk membangun komitmen volume barang agar layanan direct call dapat berjalan secara reguler dan berkesinambungan," imbaunya.

"Dengan sistem logistik yang terintegrasi, Sulampua optimis dapat bersaing dengan kawasan industri di Jawa maupun negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand dalam rantai pasok global," kuncinya.
(
ven)




×
Berita Terbaru Update