![]() |
| Gubernur Yulius Selvanus dan Wagub Victor Mailangkay saat menghadiri tradisi Iwadh di hari lebaran ke dua yang digelar di Kampung Arab, Kota Manado, Minggu (22/3). Foto: Istimewa |
MANADO, Komentar.co - Tradisi Iwadh, warisan budaya khas masyarakat keturunan Arab di Manado, kembali digelar dengan khidmat pada hari kedua perayaan Idulfitri 1447 H, Minggu (22/3/2026).
Perayaan yang dipusatkan di Kelurahan Istiqlal, Kampung Arab, Kota Manado ini dihadiri langsung oleh Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus, bersama jajaran pejabat daerah.
Gubernur Yulius Selvanus yang didampingi Wakil Gubernur Victor Mailangkay, menegaskan bahwa kehadiran pemerintah merupakan bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian tradisi lokal.
Dalam penyampaiannya, Yulius menggarisbawahi bahwa silaturahmi merupakan fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat di Sulawesi Utara.
"Iwadh bukan sekadar ritual, tetapi ruang perjumpaan hati untuk saling memaafkan dan memperkuat kebersamaan. Ini adalah bukti nyata bahwa perbedaan di Sulawesi Utara justru menjadi kekuatan yang saling menguatkan," ujar Gubernur di sela-sela kegiatan.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana hangat sejak pagi hari. Lorong-lorong di Kampung Arab dipenuhi warga yang melakukan prosesi jalan bersama dari rumah ke rumah. Lantunan doa dari para imam serta iringan musik rebana hadroh menambah kekhusyukan suasana. Sebagai simbol rasa syukur, berbagai hidangan khas disuguhkan kepada para tamu dan warga yang melintas.
Tradisi yang telah dijaga selama lebih dari sembilan dekade ini dinilai berhasil menyatukan nilai-nilai Islam yang ramah dengan kearifan lokal. Hal ini semakin memperkokoh identitas Manado sebagai kota dengan tingkat toleransi yang tinggi di Indonesia.
Turut hadir dalam rombongan pemerintah provinsi, Plh Sekretaris Daerah Provinsi Sulut Denny Mangala dan Wali Kota Manado Andrei Angouw dan sejumlah pejabat dilingkup Pemprov Sulut. Para pejabat daerah tersebut tampak membaur tanpa sekat dengan masyarakat, bersalaman dan mengikuti rangkaian prosesi berjalan kaki mengelilingi kampung.
Perayaan Iwadh tahun ini kembali membuktikan bahwa keragaman budaya dan agama di Sulawesi Utara mampu hidup berdampingan dalam harmoni yang terjaga selama puluhan tahun. (*/ven)


.jpg)
