![]() |
| Tampak ketinggian tumpukan sampah yang terus bertambah dlokasi i TP Malapintu, Tahuna. |
SANGIHE, Komentar.co - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe sejak beberapa periode pergantian kepala daerah telah berupaya menyediakan berbagai keperluan dalam rangka kebersihan lingkungan secara menyeluruh baik di pusat kota hingga ke wilayah kelurahan terdekat.
Salah satu upaya konkret dengan pembangunan gedung di dalam area Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah di Malapintu, Kelurahan Santiago, Tahuna. Fasilitas tersebut sebagai wadah monitor kontrol pada tiap aktifitas pekerja kebersihan dan beberapa infrastruktur sebagai sanitasi atau pemilahan sampah sesuai kategori dan jenis sampah.
Selain itu, pengadaan alat pengangkut sampah organik dan non organik telah banyak tersedia, sekaligus dengan para pekerja kebersihan yang selalu aktif terlihat tiap pagi sebelum aktifitas kantor dan lainya dimulai.
Tak bisa di pungkiri, upayan Pemkab Kepulauan Sangihe dibidang kebersihan lingkungaan ini adalah sebuah prestasi yang cukup baik menurut sebagian pandangan masyarakat.
Namun disisi lain, ada hal yang menggelitik perhatian warga yang tinggal di Malapintu, yakni tentang polusi. Polusi itu tak hanya udara saja, masih ada yang lain seperti polusi tanah dan air.
"Dorang yang tinggal di pusat kota itu enak deng kebersihan terjaga, mar torang disini justru sebaliknya, udara so nda rupa dulu dapa rasa segar, aer leh depe rasa so laeng sejak ada TPA itu," ungkap warga setempat dengan dealeg lokalnya yang meminta namanya untuk tidak dipublish.
"Selama ini yang kita lia hanya pemindahan masalah sampah kota ke sini, bukan menyelesaikan masalah karena sampah cuma kase takumpul terus tanpa ada pengolahan limbah, ujarnya dengan wajah terlihat kesal," sambungnya lagi.
Dari pantauan media ini di lokasi, memang keterangan warga setempat ada benarnya, sebab hanya terlihat adanya gedung, kendaraan, alat berat serta bak serupa kolam kering yang sepertinya tak di fungsikan sama sekali, bahkan tak ada terlihat mesin daur ulang yang beroperasi walaupun mungkin ada dalam gedung tapi rupanya dalam keadaan mati suri.
Terpantau juga, ada pemandangan baru, sebuah gunung buatan hasil tumpukan sampah yang di ratakan dengan alat berat, terlihat lebih tinggi dari atap bangunan dalam lokasi TPA.
Ketika di tanya kepada para pemulung, apa saja yang dicari dan dikumpul mereka di TPA ini, dengan rinci dijelaskan hanya jenis sampah tertentu yang dipisah dan diambil.
"Torang cuma ja ambe dos yang masih dapa lia bersih dan sampah logam, karena ada pembeli, kalau di luar itu nda di ambe riki bagunung bagitu," ujar mereka dengan dialeg lokalnya.
Terpisah, beberapa pemerhati lingkungan di Sangihe menyebut bahwa masalah sampah ini akan tuntas jika adanya solusi yang tepat seperti daur ulang sesuai jenis sampah, dan hasilnya akan bisa kita pakai dalam berbagai hal yang mendatangkan uang dan tambahan pemasukan ke kas daerah, dengan jalan mengundang para pengusaha daur ulang sampah untuk mengolah langsung di TPA, maupun tenaga ahli untuk mendidik para pekerja untuk bisa menghasilkan produk hasil daur ulang yang memiliki manfaat lain ke bidang perkebunan dan pertanian.
"Coba dari lalu-lalu itu anggaran studi banding para kepala desa, anggota dewan ke Bali yang tak ada hasilnya untuk daerah di alihkan ke biaya sewa tenaga ahli, kan pasti keadaan sampah tidak tampil seperti itu dampaknya," ucap pemerhati menutup pembicaraannya.
Warga pun berharap hal-hal yang meresahkan setempat ini akan mendapat tanggapan positif dari pimpinan daerah dan para penentu kebijakan di lembaga legislatif sehingga ada solusi untuk masalah yang kompleks ini sehingga kedepan faktor kebersihan lingkungan yang erat dengan kesehatan kita akan terjamin hingga ke generasi mendatang.
Selain itu, masalah ini juga tidak berimbas pada kebijakan lain, seperti pasar murah atau pengobatan gratis, yang meski murah dan gratis tapi jika kebersihan lingkungan kita terkontaminasi oleh polusi udara, tanah dan air, maka semuanya akan menjadikan upaya yang sia sia. (Vander)




