Penulis: V. Gansalangi
![]() |
Jika di bayangkan keadaan hidup warga setempat umumnya pada masa kekuasaan Belanda, dengan sistem imperialisme yang brutal, tentu siapapun dalam keadaan terdesak pasti akan melakukan tindakan perlawanan, seperti halnya terjadi pada wilayah lain di Nusantara jauh sebelum pernyataan dan nama Indonesia di deklarasikan oleh Ir. Soekarno dan Muhamad Hatta.
Pada masa sulit itu, hiduplah seorang pria sederhana yang masih kental dengan adat, ia tak kenal takut kepada KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger) tentara kolonial Kerajaan Belanda dalam segala arogansi militernya dan dengan seenaknya ingin menguasai wilayah dan pulau-pulau di Manganitu bagian Selatan.
Sebab jauh sebelum kedatangan tentara Belanda ke Sangihe, mulai dari leluhurnya dan warga lainya sudah terbiasa dengan suasana perang melawan perompak dan bajak laut dari Filipina yang di sebut oleh penduduk setempat dengan istilah "Tau Mangindano atau Tau Suluge", sebab pada umumnya mereka itu berasal dari pulau Mindanao dan Pulau Sulu. Meski kemungkinan besar juga ada yang berasal dari daerah lain di Filipina, lalu transit dari kedua pulau tersebut karena pulau itu berdekatan dengan pulau-pulau di Sangihe dan Talaud.
Dari sebuah batu berbentuk kursi ia dengan gagah berani memantau keadaan sekitar pulau-pulau terdekat dari serangan para bajak laut dan tentara Belanda. Batu itu masih ada hingga kini di pulau Batunderan, kecamatan Manganitu Selatan, dikenal dengan sebutan "Batu kadera". Di pulau ini tempat ia di lahirkan dan bertumbuh dengan karakter yang alami sesuai adat Sangihe.
Olehnya itu, penduduk yang melawan para penjajah itu di pimpin oleh lelaki pemberani bernama Kasiaheng. Nama ini sangat kental dengan falsafah adat dan di ambil dari nama burung elang dalam bahasa setempat adalah Kasiaheng, sekaligus julukan atas jiwa patriotiknya beliau, layaknya elang menyambar dalam pertempuran. Ikat kepala warna merah pun selalu di pakainya bersama para pemberani saat itu. Sebab dalam tradisi Sangihe, warna itu sebagai simbol keberanian dan semangat pertempuran.
Ketika pasukan Kasiaheng beraksi, area sekitarpun terlihat merah darah, hingga laut oleh aliran darah korban yang tewas. Dan sejak peristiwa itu, pulau yang sering terjadi pertempuran antara pasukan Belanda dan penduduk Manganitu Selatan di juluki Mahamu, yang artinya merah darah yang di kenal sekarang sebagai pulau Mahumu.
Dari sekian kali pertempuran, jika kelelahan ia beristirahat pada sebuah batu sebagai tempat berlindung yang di anggap aman. Namun tak menyangka suatu hari nasibnya kurang beruntung, menyeretnya kedalam situasi eksekusi pihak Belanda setelah tertangkap dalam persembunyian akibat informasi beberapa orang setempat yang diam-diam bersekongkol dengan para tentara.
Meskipun ia harus menanggung ancaman Belanda, bahwa jika tak menyerahkan diri, maka keluarga dekat dan saudarinya yang hampir bersamaan waktu ditangkap oleh para tentara itu. Sehingga sejak saat itu, Ia dengan hatinya yang terpaksa menyerah dalam keadaan tangan dan kaki terikat sampai akhirnya peluru tajam mengoyakan tubuh berlumuran darah.
Dalam ingatan kolektif warga, Kasiaheng telah menjadi tonggak sejarah dan simbol keberanian dalam mempertahankan tanah air hingga tetes darah penghabisan.
Kini Kasiaheng hanyalah sebuah kisah yang masih tersimpan oleh para keturunannya yang telah menjaga makam beliau agar tetap ada demi bukti kepada generasi sekarang bahwa tanah ini pernah mempunyai sosok pemberani yang cinta tanah air dan tradisi setempat.
