![]() |
| Pidato kenegaraan Presiden Prabowo Subianto, Jumat (14/8). Foto: Istimewa |
JAKARTA, Komentar.co - Presiden Prabowo Subianto resmi memaparkan arsitektur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027 dalam pidato kenegaraannya di Gedung Nusantara, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Dalam pemaparannya, kepala negara menegaskan bahwa struktur fiskal tahun depan didesain secara ekspansif, kolaboratif, terarah, serta terukur guna memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan mempercepat kesejahteraan masyarakat.
Arah kebijakan baru ini mengandalkan harmonisasi lintas sektor untuk memaksimalkan dampak anggaran di tingkat akar rumput. Presiden menginstruksikan integrasi yang lebih solid antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan Danantara guna memperkuat transformasi ekonomi berbasis aktivitas bernilai tambah tinggi.
“Program-program unggulan harus berjalan efektif. Program perlindungan sosial harus andal, dan pemberdayaan bagi UMKM harus terus digairahkan. Dukungan untuk petani, nelayan, guru, dan tenaga kerja yang rentan juga harus diperkuat,” ujar Presiden Prabowo.
Ia juga menggarisbawahi pentingnya penguatan sinergi pusat-daerah serta penegakan hukum dan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu sebagai pilar pendukung ekosistem ekonomi.
Untuk mengesekusi agenda transformasi tersebut, pemerintah merancang lonjakan belanja negara menjadi Rp4.097,2 triliun, meningkat signifikan dari alokasi APBN 2026 yang sebesar Rp3.842,7 triliun. Postur RAPBN 2027 ini ditopang oleh target pendapatan negara senilai Rp3.426 triliun.Guna menutup celah anggaran, pembiayaan ditetapkan sebesar Rp671,2 triliun, yang mematok defisit anggaran berada di level 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Melalui stimulus belanja ini, pemerintah membidik target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6 persen pada tahun 2027, lebih tinggi dari target tahun sebelumnya yang berada di angka 5,4 persen.Adapun indikator makroekonomi pendukung lainnya ditargetkan bergerak stabil. Laju inflasi akan dijaga ketat pada kisaran 2,5 persen, tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun diperkirakan berada di level 6,9 persen, dan nilai tukar rupiah diestimasikan bergerak pada kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.
Secara komprehensif, implementasi anggaran jumbo ini akan difokuskan pada Delapan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN), meliputi; Kedaulatan pangan nasional, Kemandirian energi dan air, Peningkatan mutu pendidikan, Aksesibilitas dan kualitas kesehatan, Hilirisasi dan industrialisasi sektor komoditas, Pembangunan infrastruktur, perumahan serta ketahanan bencana dan Penguatan ekonomi kerakyatan dan pembangunan desa serta Program percepatan penurunan angka kemiskinan.
Kedelapan sektor utama ini nantinya disokong oleh penguatan di bidang pertahanan, keamanan, tata kelola pemerintahan, akselerasi digitalisasi, dan langkah diplomasi ekonomi global. Melalui intervensi fiskal yang holistik dan efisiensi belanja ini, pemerintah menetapkan target penurunan indikator sosial secara berani.
Tingkat kemiskinan diproyeksikan merosot ke angka 6,0 hingga 6,5 persen. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ditekan hingga ke rentang 4,3 sampai 4,87 persen, disertai perbaikan ketimpangan ekonomi melalui target rasio gini di level 0,362 sampai 0,367.
Di akhir pidatonya, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa ketepatan realisasi angka-angka dalam APBN sangat bergantung pada kualitas data makroekonomi yang dipasok oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Menyadari krusialnya aspek akurasi ini, Kepala Negara mengimbau seluruh lapisan masyarakat dan pelaku usaha untuk menyukseskan program Sensus Ekonomi 2026 yang tengah berjalan.Presiden meminta pengisian data dilakukan secara jujur dan transparan, sekaligus menjamin tidak adanya penyalahgunaan informasi demi kepentingan eksternal.
"Data yang dikumpulkan BPS dari sensus ekonomi tidak akan digunakan untuk mengejar kekayaan atau pendapatan pribadi yang dilaporkan. Data dari sensus ekonomi akan digunakan untuk kita bisa lebih tepat menyusun kebijakan dan anggaran," pungkasnya. (*/red)
Post Views: 1863
