Notification

×

Iklan

Kandouw Sebut Kemiskinan di Sulut Paling Rendah se-Sulawesi

Friday, April 12, 2019 | 23:30 WIB Last Updated 2019-04-12T15:30:24Z
Sulut,- Kendati tidak termasuk dalam 10 destinasi unggulan di Indonesia, namun terobosan dan capaian yang telah dilakukan Gubernur Olly Dondokambey, SE dan Wakil Gubernur Drs Steven O E Kandouw selama tiga tahun belakangan ini telah meningkatkan sektor pariwisata sehingga mengalami pertumbuhan tertinggi se-Indonesia.

Disamping itu, provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menjadi provinsi yang paling rendah tingkat kemiskinannya se-Pulau Sulawesi di tengah tantangan yang terjadi di sejumlah sektor.

"Sulut punya enam dari dua belas industri perikanan terbesar di Indonesia. hampir semua hanya bisa beroperasi paling tinggi 20 persen dari kapasitas produksi karena suplainya tidak maksimal dilarang karena moratorium dari kementerian perikanan tapi kita patut berbangga karena angka kemiskinan di seluruh Sulawesi kita paling rendah," kata Wakil Gubenur Stven Kandouw saat membuka Rapat Koordinasi Penguatan Ekonomi Masyarakat, Jumat 12/04/2019) di Manado.

Duo top eksekutif Sulut ini pun masih terus melakukan berbagai upaya lewat kebijakan-kebijakan di sektor investasi. Dimana telah merintis penerbangan Kinabalu dan Davao

"Tahun 2015 kita masih dua belas ribu kunjungan wisatawan satu tahun. Sekarang sudah berkisar sebelas ribu sampai ribu satu bulan kunjungan dan kedepan bapak gubernur sudah buka airline yang baru dari Kinibalu dan Davao," jelas Kandouw.

Lebih jauh, menurut Kandouw, data BPS menyebutkan bahwa sumbangan pariwisata yang tadinya hanya empat persen di Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sekarang sudah mencapai enam belas persen.

"Sudah waktunya mencari mengrade terobosan baru untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengelaborasi dan kolaborasi pariwisata lokal wisdom kita yang belum tergarap dengan baik," ujar Kandouw

Lanjutnya, kebijakan pemerintah menggunakan goverment expenditur pertama output outcomenya jelas dan lebih utama suitinebel bisa terus berlangsung dan dirasakan oleh masyarakat. 

Dirinya juga mengingatkan pentingnya koordinasi antara kabupaten /kota Provinsi dan pemerintah pusat agar program yang di rencanakan bisa berjalan dengan baik.

“Harapan bapak gubernur Dana Desa dari 1.7 triliun bisa jadi 3 triliun,” pungkasnya .

Sementara itu Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Kawasan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Sonny Harry B Hamadi mengatakan ingin membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri melalui proses penguatan ekonomi masyarakat melalui kegiatan kegiatan yang ada.

"Tugas kita sebagai pemerintah menciptakan dan memungkinkan mereka membangun wirausaha dengan mudah jadi membangun sistem sehingga mereka mampu untuk bangkit sendiri," katanya.

Dengan Dana Desa semakin besar harus betul-betul memberi manfaat masyarakat yang ada di desa.

"Penguatan ekonomi masyarakat di desa menjadi prioritas pembangunan desa berikutnya selama ini kita prioritas pembangunan infrastruktur di 2019 kita dorong penguatan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat di desa," ujarnya.

Hamadi optimis provinis Sulut punya potensi yang besar untuk mengelola bumdes, apalagi Sulut termasuk provinsi dengan indeks pembangunan manusia yang sangat tinggi. Dengan Rakor ini yang di hadiri oleh kepala dinas kabupaten/kota bisa mengali potensi dan berfikir bagaimana desanya mengalami kemajuan lebih cepat lebih cepat dan lebih cepat lagi," tutup Hamadi.

Rakor tersebut turut dihadiri jajaran Kemenko PMK, Kepala Biro Kesra Sulut, dr Kartika Devi Kandouw Tanos, MARS, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Daerah Provinsi Sulut Royke Mewoh. (*/ven)


×
Berita Terbaru Update