Saat Virus Corona Mengganas Disana-sini, APD Pekerja Malah Inprosedural
Minahasa Utara, - Bumi Pertiwi menangis sejak ratusan nyawa melayang akibat dibantai pandemi Covid-19 (virus corona).
Untuk itu Presiden RI, Gubernur Sulut dan Bupati Minut gencar melarang masyarakat berkumpul dan harus pakai safety atau Alat Pelindung Diri (APD).
Menariknya, di Desa Waleo II Kecamatan Kema Minut diduga pemerintah Desa Waleo II malah menyuruh rakyatnya bekerja bakti membangun jalan tanpa dilengkapi masker dan APD sebagai pemberantasan berjangkitnya covid-19.
Edwin Kambey dan Antony Pusung selaku Anggota DPRD Minut tertarik dengan proyek tersebut, dan berjanji akan lakukan pemeriksaan.
"Saya dan Saudara Antony Pusung dari Dapil yang sama (Dapil IV), sudah mengecek ke Camat Kema dan Kadis PMD. Menurut mereka, Senin besok mereka akan panggil Kumtua Desa Waleo II sebagai materi konfirmasi," kata Edwin.
Senada dengan Edwin Kambey (EK), Antony Pusung Anggota Dewan dari Partai Perindo juga menyeriusi realisasi proyek fisik itu. "Harus jelas dan transparan. Kami mempertanyakan masalah ini karena mendapatkan aspirasi dari Masyarakat Waleo 2," ungkap Pusung.
Camat Kema Vilma Anthoni SH.MH membenarkan kalau proyek pembangunan rabat beton di Desa Waleo Dua sudah dimulai. "Iya, tadi saya konfirm Hukuntua, dia membenarkan kalau mereka sudah sementra melaksanakan kegiatan fisiknya. BLT, menunggu Juknis/ Perbup," jelas Vilma.
Diketahui bersama, Dana Desa Waleo Dua berkisar Rp. 800. 000.000. Berarti pemerintah setempat harus mengalokasikan 25 % minimal untuk dana penanganan covid-19. Kalau pencairan Dana Desa Tahap 1 sebesar 414 juta, 25% dari total pagu itu harus dialokasikan ke penanganan covid-19.
Dan sesuai perintah Presiden RI, dana desa wajib di alokasi ke Penanganan covid-19.
1. Disaat dunia sedang genting oleh serangan Virus Covid-19, sekitar awal bulan Maret 2020, pemerintah setempat justeru menomor satukan proyek jalan daripada upaya memperkecil tingkat resiko penularan virus corona bagi rakyatnya.
2. Pekerjaan dimulai Jumat 17-04-2020 dan Sabtu 18-04-2020, atas perintah dari Hukumtua Waleo Dua
3. Warga yang terlibat pekerjaan, digaji
4. Ketua BPD menerangkan bahwa;
a. Dana Desa hanya diambil 20% untuk penanganan covid-19.
b. Sampai saat ini masyarakat baru menerima bantuan dari Pemkab Minut berupa beras, dan masker untuk satu keluarga 2 pcs.
c. Dari Dana Desa juga baru membeli 6 buah tong (untuk cuci tangan). Tim relawan baru dibentuk, namun belum bergerak, malahan proyek yang didahulukan bergerak daripada pencegahan covid 19.
Atas semua itu, Howard Hendrik Marius Pelaksana harian Ketua LSM GMBI Distrik Minahasa Utara melalui Komandan Tim 7 Jefran Herodes de'Yong akan terus memantau dan mendalami penggunaan uang negara di Desa Waleo Dua tersebut.
"Secara kasat mata maupun melihat point-point investigasi KSM Kema diatas, kami menilai ada hal yang dipaksakan sehingga pemerintah setempat memilih mengutamakan pekerjaan proyek dibanding pandemi covid-19," katanya.
GMBI juga berharap, baik Pemerintah Kabupaten maupun DPRD Minut untuk menghentikan dulu kelanjutan proyek itu. Karna ada dugaan keganjilan seperti kegiatan fisik sudah dimulai, sedangkan BLT, menunggu Juknis/ Perbup.
"Pertama, BLT masih menunggu Juknis/ Perbup. Kedua baru Tahap I digelar ploting dana covid-19 yang harusnya 25%, ternyata hanya di plot 20% saja," Jefran.
Yang terakhir lanjutnya yaitu, jika pandemi covid-19 berjalan dan mengalami peningkatan, darimana lagi anggaran diambil jika Dana Desa sudah dituangkan ke pekerjaan fisik.
"Jadi kami minta, hentikan dulu proyek fisik yang ada sampai semua jelas, baru dilanjutkan," tandas de'Yong. (Baker)
Minahasa Utara, - Bumi Pertiwi menangis sejak ratusan nyawa melayang akibat dibantai pandemi Covid-19 (virus corona).
Untuk itu Presiden RI, Gubernur Sulut dan Bupati Minut gencar melarang masyarakat berkumpul dan harus pakai safety atau Alat Pelindung Diri (APD).
Menariknya, di Desa Waleo II Kecamatan Kema Minut diduga pemerintah Desa Waleo II malah menyuruh rakyatnya bekerja bakti membangun jalan tanpa dilengkapi masker dan APD sebagai pemberantasan berjangkitnya covid-19.
Edwin Kambey dan Antony Pusung selaku Anggota DPRD Minut tertarik dengan proyek tersebut, dan berjanji akan lakukan pemeriksaan.
"Saya dan Saudara Antony Pusung dari Dapil yang sama (Dapil IV), sudah mengecek ke Camat Kema dan Kadis PMD. Menurut mereka, Senin besok mereka akan panggil Kumtua Desa Waleo II sebagai materi konfirmasi," kata Edwin.
Senada dengan Edwin Kambey (EK), Antony Pusung Anggota Dewan dari Partai Perindo juga menyeriusi realisasi proyek fisik itu. "Harus jelas dan transparan. Kami mempertanyakan masalah ini karena mendapatkan aspirasi dari Masyarakat Waleo 2," ungkap Pusung.
Camat Kema Vilma Anthoni SH.MH membenarkan kalau proyek pembangunan rabat beton di Desa Waleo Dua sudah dimulai. "Iya, tadi saya konfirm Hukuntua, dia membenarkan kalau mereka sudah sementra melaksanakan kegiatan fisiknya. BLT, menunggu Juknis/ Perbup," jelas Vilma.
Diketahui bersama, Dana Desa Waleo Dua berkisar Rp. 800. 000.000. Berarti pemerintah setempat harus mengalokasikan 25 % minimal untuk dana penanganan covid-19. Kalau pencairan Dana Desa Tahap 1 sebesar 414 juta, 25% dari total pagu itu harus dialokasikan ke penanganan covid-19.
Dan sesuai perintah Presiden RI, dana desa wajib di alokasi ke Penanganan covid-19.

Pada berita sebelumnya, LSM Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia Distrik Minahasa Utara (GMBI Distrik Minut) melalui KSM Kema, dalam investigasinya menemukan bahan keterangan (baket) di lapangan yaitu,1. Disaat dunia sedang genting oleh serangan Virus Covid-19, sekitar awal bulan Maret 2020, pemerintah setempat justeru menomor satukan proyek jalan daripada upaya memperkecil tingkat resiko penularan virus corona bagi rakyatnya.
2. Pekerjaan dimulai Jumat 17-04-2020 dan Sabtu 18-04-2020, atas perintah dari Hukumtua Waleo Dua
3. Warga yang terlibat pekerjaan, digaji
4. Ketua BPD menerangkan bahwa;
a. Dana Desa hanya diambil 20% untuk penanganan covid-19.
b. Sampai saat ini masyarakat baru menerima bantuan dari Pemkab Minut berupa beras, dan masker untuk satu keluarga 2 pcs.
c. Dari Dana Desa juga baru membeli 6 buah tong (untuk cuci tangan). Tim relawan baru dibentuk, namun belum bergerak, malahan proyek yang didahulukan bergerak daripada pencegahan covid 19.
Atas semua itu, Howard Hendrik Marius Pelaksana harian Ketua LSM GMBI Distrik Minahasa Utara melalui Komandan Tim 7 Jefran Herodes de'Yong akan terus memantau dan mendalami penggunaan uang negara di Desa Waleo Dua tersebut.
"Secara kasat mata maupun melihat point-point investigasi KSM Kema diatas, kami menilai ada hal yang dipaksakan sehingga pemerintah setempat memilih mengutamakan pekerjaan proyek dibanding pandemi covid-19," katanya.
GMBI juga berharap, baik Pemerintah Kabupaten maupun DPRD Minut untuk menghentikan dulu kelanjutan proyek itu. Karna ada dugaan keganjilan seperti kegiatan fisik sudah dimulai, sedangkan BLT, menunggu Juknis/ Perbup.
"Pertama, BLT masih menunggu Juknis/ Perbup. Kedua baru Tahap I digelar ploting dana covid-19 yang harusnya 25%, ternyata hanya di plot 20% saja," Jefran.
Yang terakhir lanjutnya yaitu, jika pandemi covid-19 berjalan dan mengalami peningkatan, darimana lagi anggaran diambil jika Dana Desa sudah dituangkan ke pekerjaan fisik.
"Jadi kami minta, hentikan dulu proyek fisik yang ada sampai semua jelas, baru dilanjutkan," tandas de'Yong. (Baker)



