![]() |
| Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI Yassierli. Dokumentasi: Biro Humas Kemnaker |
JENEWA, Komentar.co - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) RI Yassierli secara resmi mengajak seluruh negara anggota Asia Pacific Group (ASPAG) untuk memperkuat kolaborasi lintas batas dalam pelatihan dan pengembangan keterampilan masa depan.
Ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Menaker Yassierli dalam pertemuan Asia Pacific Group Ministerial Meeting, yang menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Perburuhan Internasional atau International Labour Conference (ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss, Selasa (9/6/2026).
Langkah ini diambil sebagai respons cepat guna menghadapi disrupsi pasar kerja global yang dipicu oleh masifnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi digital.
Menteri Yassierli dalam kesempatan itu juga menegaskan bahwa dinamika ketenagakerjaan di era modern sudah terlalu kompleks untuk diselesaikan oleh satu negara secara mandiri. Fenomena pengangguran, lonjakan sektor informal, hingga potensi pergeseran jenis pekerjaan akibat otomatisasi menjadi tantangan nyata yang membayangi kawasan Asia Pasifik.
"Indonesia memandang kolaborasi internasional kini krusial. Kompleksitas isu ketenagakerjaan membutuhkan komitmen bersama untuk saling bertukar pengalaman, kebijakan, serta praktik terbaik demi melindungi hak pekerja sekaligus menyuplai kebutuhan industri," ujar Yassierli.
Di bawah arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah Indonesia menempatkan peningkatan kapabilitas pekerja sebagai pilar prioritas guna mengatasi ketidaksesuaian (mismatch) antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan riil pasar.
Guna merealisasikannya, Indonesia memaparkan dua target program konkret yang berjalan tahun ini, yaitu; Program Pemagangan Nasional: Menargetkan 150.000 lulusan perguruan tinggi untuk mendapatkan pengalaman kerja terstruktur selama 6 bulan di sektor industri. Peserta berhak mendapatkan uang saku dari pemerintah yang disetarakan dengan standar upah minimum. Program Pelatihan Vokasi Nasional: Membidik 300.000 lulusan SMA dan sederajat guna membekali mereka dengan keahlian teknis yang relevan dengan transformasi digital.
Pemerintah Indonesia menjamin kedua program tersebut dirancang secara inklusif. Hak akses peningkatan kompetensi diberikan secara setara kepada pekerja perempuan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat di wilayah perbatasan dan terpencil.
Selain memaparkan program domestik, Indonesia memanfaatkan forum ASPAG untuk membuka ruang kerja sama regional pada lima bidang strategis, yitu; Penyusunan kurikulum pelatihan vokasi berbasis keahlian masa depan. Pendirian pusat pelatihan kerja khusus bagi penyandang disabilitas. Pemberdayaan komunitas pekerja di sektor pertanian dan Pembentukan klinik produktivitas kerja serta Pembangunan pusat pengembangan teknologi tepat guna.
Melalui kemitraan komprehensif ini, Indonesia berkomitmen memastikan bahwa lompatan teknologi tidak mengorbankan nasib para pekerja, melainkan bertransformasi menjadi katalisator perluasan lapangan kerja, pemerataan akses ekonomi, dan penguatan sistem proteksi tenaga kerja di Asia Pasifik. (*/red)
