![]() |
| Menteri Ketenagakerjaan Yassierli saat diwawancarai awak media. Dokumentasi Biro Humas Kemnaker |
JAKARTA, Komentar.co - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) resmi menjalin kemitraan strategis dengan platform GreatNusa milik Universitas Bina Nusantara (Binus University) dan Microsoft Indonesia. Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta keterampilan perangkat lunak demi mencetak talenta digital nasional yang siap menjawab tantangan industri.
Langkah ini diambil guna mengantisipasi masifnya disrupsi teknologi di pasar kerja global. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan, akselerasi kemampuan digital, khususnya AI, kini menjadi indikator mutlak untuk mendongkrak daya saing angkatan kerja domestik.
"Transformasi digital tidak bisa kita hindari. Kita harus memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Kolaborasi dengan dunia pendidikan dan sektor teknologi menjadi langkah penting," ujar Yassierli saat membuka AI Career Boost Day 2026 bertema Kolaborasi AI dan Talenta Indonesia: Meningkatkan Kompetensi, Memperluas Kesempatan Kerja di Jakarta, Selasa (28/7/2026)..
Yassierli mengimbau masyarakat agar tidak memandang kehadiran AI sebagai ancaman pengurangan lapangan kerja. Berdasarkan data World Economic Forum Future of Jobs Report 2025, meski ada sekitar 92 juta lapangan kerja yang berpotensi terdisrupsi, teknologi ini justru diproyeksikan membuka 170 juta varian profesi baru berbasis digital hingga tahun 2030.
Menyoroti kekhawatiran publik mengenai gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat otomasi, Menaker merujuk pada riset Anthropic tahun 2026. Studi tersebut menunjukkan bahwa PHK secara makro lebih didominasi oleh faktor kesehatan bisnis, daya saing korporasi, serta dinamika ekonomi makro.
"Otomasi berbasis AI hanyalah salah satu faktor, bukan penyebab utama," tegasnya.
Kebutuhan kecakapan teknologi ini sudah di depan mata. Data platform profesional LinkedIn mencatat permintaan tenaga kerja dengan keahlian AI di kawasan Asia Tenggara melonjak hingga 2,4 kali lipat. Di Indonesia sendiri, sebanyak 69 persen pimpinan perusahaan menyatakan enggan merekrut pelamar yang tidak memiliki literasi dasar atau kemampuan di bidang AI.
Menyikapi urgensi tersebut, Kemnaker kini tengah mengoptimalkan jaringan Balai Latihan Kerja (BLK) di seluruh Indonesia. Fasilitas ini diarahkan menjadi episentrum edukasi kompetensi digital mulai dari tingkat dasar hingga lanjutan, termasuk sistem operasi pintar (smart operation), baik lewat metode tatap muka maupun daring.
Kemnaker juga berupaya mengintegrasikan sistem pelatihan, sertifikasi, serta bursa kerja daring (job fair online) ke dalam satu ekosistem yang padu demi mempercepat penyerapan tenaga kerja. Format integrasi ini berkaca pada kesuksesan Kota Hyderabad di India, yang mencatat lonjakan perekrutan hingga 11 persen setelah berhasil mengoneksikan pemerintah, akademisi, dan sektor industri.
Kendati fokus memacu literasi AI, Yassierli mengingatkan bahwa aspek humanis pekerja tetap menjadi pilar utama yang tidak dapat dieliminasi oleh mesin tercanggih sekalipun.
"Tidak ada algoritma yang bisa menggantikan empati, tidak ada kumpulan data yang bisa mereplikasi kebijaksanaan. AI harus dimanfaatkan untuk memperkuat kualitas manusia guna mendukung visi Indonesia Emas 2045," pungkasnya. (*/Red)
