Notification

×

Iklan

Sektor Pariwisata dan Kebudayaan 'Melebur', Ekonomi Sulut Melaju

Saturday, June 20, 2026 | 02:06 WIB Last Updated 2026-06-19T18:07:19Z
Foto: Istimewa


SULUT, Komentar.co -
Gubernur Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur (Wagub) Victor Mailangkay terus mendorong inovasi dan kolaborasi lintas sektor guna memacu pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Seperti halnya, sinergi sektor pariwisata dan kebudayaan yang dinilai mampu menciptakan efek ekonomi berganda (multiplier effect) yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal.

Hal tersebut menjadi pokok bahasan utama dalam kegiatan "Ngobrol Pintar" (Ngopi) yang diinisiasi oleh Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) di Museum Sulawesi Utara, Manado, Jumat (19/6/2026).

Kegiatan bertema “Pariwisata dan Kebudayaan sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara” ini menghadirkan dua pimpinan instansi terkait sebagai pembicara kunci.

Kepala Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Sulut, dr Kartika Devi Tanos, MARS, menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus mematangkan kesiapan infrastruktur untuk memperluas akses bagi wisatawan.

Peningkatan konektivitas ini mencakup optimalisasi rute penerbangan internasional, penyambutan kapal pesiar, hingga penguatan jalur darat Trans Sulawesi.

“Sejak tahun lalu sejumlah destinasi wisata milik pemerintah provinsi telah direvitalisasi dan akan terus dilanjutkan. Konektivitas juga diperkuat melalui jalur udara, laut maupun darat,” ujar dr. Devi.

Meski kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) grafiknya terus naik tajam, dr Devi mengakui pergerakan wisatawan nusantara (wisnu) masih terganjal tantangan global. Dinamika geopolitik dunia serta tingginya harga tiket pesawat domestik menjadi hambatan utama.

Menyiasati hal itu, pihaknya tengah merancang paket wisata yang lebih kompetitif bersama para pelaku industri.

Terkait pengembangan potensi lokal, Sulut saat ini tercatat memiliki 127 desa wisata. Namun, Dinas Pariwisata menerapkan strategi promosi selektif demi menjaga kepuasan pelancong.

“Kami tidak ingin wisatawan datang lalu kecewa. Karena itu, hanya desa wisata yang telah direkomendasikan dan dinilai siap yang akan dipromosikan secara luas,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut, Yorry Rommy Lesawengan, menekankan bahwa kekayaan adat dan tradisi merupakan fondasi kuat yang memberi nilai tambah bagi sektor pariwisata.

Salah satu langkah konkretnya adalah mengubah wajah Museum Sulawesi Utara menjadi destinasi wisata budaya modern yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Berkat dukungan dari pemerintah pusat, museum tersebut kini dilengkapi dengan fasilitas digital canggih, seperti ruang imersif sejarah, ruang musik tradisional, hingga pusat kuliner lokal.

Ditargetkan, museum ini menjadi etalase budaya terintegrasi di Bumi Nyiur Melambai.

“Kami ingin museum ini menjadi destinasi budaya yang direkomendasikan kepada wisatawan. Di sini pengunjung dapat melihat representasi budaya Minahasa, Nusa Utara, dan Bolaang Mongondow dalam satu kawasan,” kata Lesawengan.

Sejak diresmikan kembali pada 25 Mei 2026, museum ini telah menyedot ribuan pengunjung dari sektor pendidikan dan komunitas umum. Guna memperluas dampak ekonominya, Dinas Kebudayaan berencana membangun area khusus UMKM, bengkel sanggar seni, serta menyelenggarakan kelas interaktif alat musik kolintang.

Saat ini, masyarakat masih dapat mengakses Museum Sulawesi Utara secara gratis setiap hari, kecuali hari libur nasional sembari menunggu rampungnya regulasi mengenai tarif retribusi daerah.

Melalui momentum diskusi ini, kedua instansi bersepakat mengesampingkan ego sektoral untuk meleburkan program kerja. Kolaborasi pariwisata yang didukung kekuatan akar budaya optimistis mampu menjadi motor penggerak baru bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan di Sulawesi Utara. (*/ven)



×
Berita Terbaru Update