![]() |
| Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus saat menjadi Kahdim pada Ibadah Anak-anak Sekolah Minggu di Gereja GMIM Eben Heazer Bumi Beringin Manado, Minggu (8/2) pagi. Foto: Istimewa |
SULUT, Komentar.co - Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK), menunjukkan sisi humanisnya dengan menanggalkan sekat jabatan saat melayani sebagai khadim (pemimpin ibadah) di Ibadah Sekolah Minggu GMIM Eben Heazer Bumi Beringin, Manado, Minggu (8/2/2026) pagi.
Momen penuh sukacita tersebut terlihat saat orang nomor satu di Bumi Nyiur Melambai ini membaur bersama anak-anak. Jauh dari kesan kaku protokoler, Gubernur Yulius tampak luwes bercengkerama, melempar tanya jawab, hingga sesekali melontarkan guyonan yang memicu tawa ceria anak-anak Sekolah Minggu.
Dalam khotbahnya, Gubernur Yulius mengutip nats Alkitab dari Injil Markus 10:13-16. Ia menekankan pentingnya membiarkan anak-anak datang kepada Tuhan karena merekalah yang empunya Kerajaan Allah."Tuhan Yesus sangat menyayangi dan memberkati anak-anak. Di mata Tuhan, hati yang sederhana, tulus, dan penuh iman seperti anak-anak adalah yang paling berharga," tulis YSK melalui unggahan di akun facebook pribadinya.
Bagi warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), peran yang diambil Gubernur Yulius bukan sekadar formalitas. Istilah 'Engku' (sebutan untuk guru sekolah minggu laki-laki) merupakan simbol pengabdian pelayanan yang mendalam.
Rupanya, peran ini bukanlah hal baru bagi YSK. Diketahui, jauh sebelum menjabat sebagai Gubernur, ia telah mendedikasikan diri sebagai guru Sekolah Minggu dimasa mudanya.
"Pelayanan kepada anak-anak adalah panggilan hati. Di sinilah benih iman ditanam sejak dini agar kelak mereka bertumbuh dalam kasih dan pengharapan," ungkapnya.
Lebih lanjut, Gubernur Yulius mengingatkan bahwa anak merupakan anugerah sekaligus titipan Tuhan bagi orang tua dan masyarakat.
Ia pun mengajak semua pihak untuk bersama-sama membimbing generasi muda agar menjadi pribadi yang berintegritas serta berguna bagi bangsa dan negara.
Momen ini juga sempat memicu rasa haru di kalangan jemaat yang hadir. Banyak dari mereka mengabadikan momen langka tersebut melalui ponsel pintar, menyaksikan pemimpin daerah mereka kembali ke akar pelayanannya sebagai seorang pendidik iman bagi anak-anak. (ven)

