Notification

×

Iklan

Kontribusi Tak Terlihat 'Pahlawan Lingkungan' Dalam Sistem Daur Ulang TPA Malapintu

Wednesday, March 25, 2026 | 21:17 WIB Last Updated 2026-03-25T13:20:46Z
Islustrasi aktivitas saat memilah sampah di TPA. Foto: Istiemewa


SANGIHE, Komentar.co -
Kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Malapintu di Kelurahan Santiago, Kecamatan Tahuna kian memprihatinkan. Tanpa solusi penanganan yang konkret, tumpukan sampah di lokasi tersebut kini bertransformasi menjadi "gunung buatan" yang mengancam kelestarian lingkungan setempat.

Berdasarkan pantauan di lapangan, tumpukan didominasi oleh sampah organik dan kaca yang terus meninggi. Kontras dengan sampah logam yang jarang mencapai TPA karena telah dipilah lebih dulu oleh petugas kebersihan di armada pengangkut, tumpukan organik dan kaca justru dibiarkan menumpuk tanpa proses pengolahan lebih lanjut.


Simon Tahendung, salah satu warga yang telah sepuluh tahun mengais rezeki di TPA tersebut, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia mengenang bahwa area yang kini menjadi gunungan sampah itu dulunya merupakan lubang besar sedalam tujuh meter.

"Awalnya disini ada lubang yang dalam, sekarang sudah jadi gunung. Meski kepala daerah dan kepala dinas berganti, penanganan sampah seolah hanya ditumpuk begitu saja. Sangat sedikit yang bisa dipilah untuk dijual kembali," ujar Simon saat ditemui Komentar.co .

Saat ini, tercatat ada 33 Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan hidup dari memilah sampah di TPA Malapintu. Meski membantu mengurangi volume sampah plastik, kertas, dan dus, kapasitas mereka tidak sebanding dengan derasnya pasokan sampah yang masuk setiap hari.

Para pekerja informal ini pun mengaku tidak menerima gaji atau santunan, karena status mereka hanya dianggap sebagai pemulung yang nyasar.

Simon juga menyoroti ketertinggalan tata kelola sampah di Sangihe dibandingkan daerah lain.

Menurutnya, daerah lain sudah mampu menjalankan proses daur ulang hingga pengiriman bahan baku ke luar daerah, seperti Surabaya, melalui fasilitas kontainer tol laut.

"Di sana (daur ulang) bisa jadi nilai ekonomi. Kalau di sini, sampah organik dan kaca hanya dibuang hingga menumpuk. Kami berharap ada niat tulus dari pemerintah daerah untuk menindaklanjuti masalah ini sebelum mencapai ambang batas berbahaya bagi lingkungan," kuncinya sembari berharap ada langkah strategis dari instansi berwenang untuk mengubah sistem pengelolaan sampah di Malapintu. Bukan sekadar menumpuk, namun mulai merambah ke sektor daur ulang yang lebih berkelanjutan demi kesehatan lingkungan dan kesejahteraan warga sekitar.
(Vander)



×
Berita Terbaru Update