Notification

×

Iklan

Lobi Gubernur Yulius Selvanus Berhasil, Peremajaan 2 Juta Pohon Kelapa Dimulai 2026

Saturday, April 18, 2026 | 00:43 WIB Last Updated 2026-04-17T16:43:29Z
Kegiatan Coffe Morning dengan tema "Bacirita For Inovasi Sulut", Jumat (17/4).


SULUT, Komentar.co -
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menegaskan komitmennya untuk memperkuat sektor perkebunan sebagai salah satu pilar utama penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Dalam upaya menjaga produktivitas komoditas unggulan disektor ini, Kementerian Pertanian (Kementan) resmi mengalokasikan 2 juta bibit kelapa untuk program peremajaan di wilayah Bumi Nyiur Melambai pada tahun 2026.

Kepastian alokasi bantuan ini disampaikan oleh Staf Khusus Gubernur Bidang Perkebunan, Madzhabullah Ichal Ali, dalam kegiatan Coffee Morning "Bacirita For Inovasi Sulut" bersama Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) yang digelar di Manado, Jumat (17/4/2026).

Alokasi besar-besaran ini merupakan hasil lobi intensif Gubernur Yulius Selvanus ke pemerintah pusat guna memperkuat ketahanan komoditas dan kesejahteraan petani, khususnya di wilayah Minahasa Selatan dan Minahasa Utara.

"Bibit ini diperuntukkan bagi peremajaan lahan, sekaligus untuk memacu volume produksi kelapa. Kesejahteraan petani tetap terjaga melalui ketersediaan pohon-pohon produktif yang baru," ujar Ichal Ali.

Selain itu, Ichal menyoroti kendala teknis di lapangan, yakni krisis tenaga (pekerja) pemanjat kelapa. Ia mencontohkan, di wilayah Likupang, biaya jasa panjat bahkan mencapai sistem bagi hasil 50:50, yang dinilai sangat memberatkan petani.

"Kami berharap Balitbangda dapat melahirkan inovasi alat panjat kelapa yang lebih efisien dan cepat untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja ini," tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Sulut, Jemmy Ringkuangan, memaparkan data performa perkebunan daerah, dimana Sulut menduduki peringkat kedua nasional dengan produksi 271,1 ribu ton, tepat di bawah Riau. Sementara itu, sepanjang tahun 2025, produksi tercatat stabil di angka 266-268 ribu ton dari total luas lahan mencapai 264.677 hektare.

Meski produksi terjaga, tantangan harga tetap membayangi. Ringkuangan mengungkapkan adanya fluktuasi tajam harga kopra, di mana harga puncak puncak tahun 2025 sempat menyentuh Rp25.000 per kilogram, namun kini terkoreksi turun ke level Rp16.000 per kilogram.

"Penurunan ini dipicu oleh lemahnya rantai pasok akibat geopolitik global serta menguatnya produksi minyak nabati pesaing di pasar internasional," jelasnya.

Ia berharap distribusi 2 juta bibit kelapa dari Kementan ini dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengganti tanaman tua di sentra-sentra produksi, sehingga posisi Sulawesi Utara sebagai salah satu produsen kelapa terbesar di Indonesia tetap kokoh di tengah dinamika pasar global.

Diketahui, hadir pada kegiatan Coffe Morning, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulawesi Utara (Balitbangda Sulut), Jani Lukas, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian dan Statistik Daerah, Zainudin Saleh Hilimi.

Hadir juga, Sekretaris Balitbangda, Marcellino Lomban, Kepala Bidang, Mario Wuisan, Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik Diskomonfi Sulut, Clif R Wangke serta wartawan pos liputan Pemprov Sulut yang tergabung dalam Jurnalis Independen Pemprov Sulut. (ven)




×
Berita Terbaru Update