Notification

×

Iklan

Jalur Penghubung Kendahe–Tahuna Barat 'Kritis', Warga Desak Pengalihan Rute Jalan

Tuesday, May 19, 2026 | 12:48 WIB Last Updated 2026-05-19T04:49:39Z
Kondisi ruas jalan yang menghubungkan Kecamatan Kendahe dan Kecamatan Tahuna Barat, Sabtu (16/5).


SANGIHE, Komentar.co -
Cuaca buruk berupa hujan deras yang melanda hampir diseluruh wilayah Kepulauan Sangihe memicu ancaman longsor susulan di jalur vital penghubung Kecamatan Kendahe dan Kecamatan Tahuna Barat.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu (16/5/2026), titik bekas longsor yang terjadi sekitar dua bulan lalu kini kondisinya semakin kritis dan telah mengikis bahu jalan aspal.

Guna mengantisipasi kecelakaan diruas jalan ini, warga setempat bersama Pemerintah Kecamatan Kendahe dan aparat kepolisian berinisiatif memasang pagar bambu darurat serta pita garis polisi (police line). Pengaman sementara ini dipasang sebagai tanda peringatan agar para pengendara yang melintas ekstra waspada.

Kondisi geografis di area tersebut memang dikenal rawan karena memiliki karakteristik tanah berpasir yang labil dan tidak padat. Hal inilah yang menyebabkan struktur tanah mudah tergerus air saat curah hujan tinggi, hingga membentuk jurang terjal tepat di tepi jalan.

Sejumlah pengguna jalan mengaku sangat khawatir dengan kondisi infrastruktur yang kian membahayakan keselamatan jiwa tersebut.

"Sebelumnya area tepi jalan ini masih tertutup rumput dan pepohonan sehingga terlihat aman. Namun setelah longsor berulang, sekarang langsung berbatasan dengan jurang yang sangat ngeri tepat di pinggir aspal," ujar salah satu pengendara yang melintas kepada Komentar.co, Sabtu (16/5/2026).

Warga setempat memperkirakan kedalaman jurang akibat longsor tersebut mencapai sekitar 200 meter. Melihat struktur tanah yang berpasir dan kedalaman medan, pembangunan dinding penahan tanah atau tanggul dinilai sangat berisiko dan tidak efektif.

Sebagai solusi alternatif, masyarakat mengusulkan agar pihak kontraktor atau instansi terkait melakukan pengalihan (shifting) trase jalan dengan menggeser jalurnya agak menjauh dari titik bibir longsoran. Skema penggeseran rute ini dianggap jauh lebih aman, efisien secara anggaran, dan lebih mudah direalisasikan daripada memaksakan pembangunan tanggul di tanah labil.

Mengingat jalur ini merupakan urat nadi perekonomian dan mobilitas utama masyarakat antar-kecamatan, warga berharap adanya langkah konkret dari pihak berwenang.

"Kami sangat berharap ada respons cepat dan penanganan langsung, baik dari Pemerintah Kabupaten Sangihe, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, maupun pemerintah pusat ataupun pihak yang memiliki kewenangan atas jalur ini," ujar warga kompak.
(Vander)


×
Berita Terbaru Update