![]() |
| Foto: Istiemwa |
SULUT, Komentar.co - Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mencatatkan performa ekonomi gemilang sepanjang tahun 2025. Di tengah fluktuasi ekonomi global, daerah berjuluk "Nyiur Melambai" ini berhasil membukukan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,66 persen secara kumulatif (c-to-c) dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Utara, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini mencapai Rp 204,75 triliun atas dasar harga berlaku, serta Rp 113,66 triliun atas dasar harga konstan.
Pertumbuhan ini didorong oleh performa impresif dari sisi produksi dan pengeluaran. Sektor industri pengolahan menjadi motor utama dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 9,97 persen.
Sementara itu, dari sisi pengeluaran, ekspor luar negeri melonjak tajam sebesar 28,42 persen, yang menandakan penguatan daya saing produk lokal di pasar internasional.
Memasuki pengujung tahun, performa ekonomi Sulut kian agresif. Pada Triwulan IV-2025, ekonomi tumbuh 5,95 persen (y-on-y). Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi "bintang" dengan pertumbuhan 20,67 persen, seiring dengan kebangkitan pariwisata dan geliat UMKM kuliner.
Secara kuartalan (q-to-q), ekonomi tumbuh 7,02 persen, dipicu oleh lonjakan belanja pemerintah sebesar 21,75 persen.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, sektor ketenagakerjaan juga menunjukkan tren positif.
Hingga November 2025, jumlah angkatan kerja mencapai 1,43 juta orang, dengan penduduk yang bekerja naik menjadi 1,35 juta orang. Sektor pengadaan listrik, air, dan gas tercatat sebagai penyerap tenaga kerja terbanyak.
Kualitas pekerjaan di Sulut juga meningkat, di mana porsi pekerja formal kini mencapai 46,93 persen. Kabar paling signifikan datang dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang berhasil ditekan ke angka 5,78 persen, turun 0,21 persen poin dibandingkan periode sebelumnya.
Perbaikan ekonomi juga menyentuh aspek kesejahteraan sosial. Per September 2025, persentase penduduk miskin turun menjadi 6,62 persen.
Penurunan signifikan terlihat di wilayah perkotaan yang kini berada di angka 3,95 persen, meski wilayah perdesaan masih memerlukan perhatian khusus dengan angka 10,11 persen.
Tingkat ketimpangan (Gini Ratio) pun terpantau menurun menjadi 0,341. Berdasarkan standar Bank Dunia, kelompok 40 persen terbawah kini menikmati 19,90 persen total pengeluaran, yang mengindikasikan distribusi pendapatan masyarakat yang semakin merata.
Gubernur Sulawesi Utara, Yulius Selvanus Komaling (YSK) menyambut baik capaian ini namun mengingatkan seluruh jajaran agar tidak cepat berpuas diri.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, Forkopimda, sektor swasta, dan masyarakat.
"Pertumbuhan ekonomi Sulut sudah berada di jalur yang baik. Tugas kita bersama adalah mengawal dan menjaganya agar manfaatnya benar-benar dirasakan seluruh masyarakat," tegas Gubernur Yulius.
Dengan fondasi ekonomi yang semakin kokoh, Sulawesi Utara optimis menatap tahun 2026 sebagai momentum pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (ven)

