![]() |
| RR United vs BPPP Tandurusa, Rabu (10/6). Foto: Istimewa |
BITUNG, Komentar.co - Laga lanjutan kompetisi Youth Kampis Cup 2026 menuai sorotan tajam setelah keputusan hakim garis merugikan RR United dalam pertandingan melawan BPPP Tandurusa, Rabu (10/6/2026) di Stadion Dua Saudara Bitung.
Pertandingan berjalan sangat ketat dengan skor imbang 2–2, di mana kedua tim saling melancarkan serangan dengan tempo permainan yang tinggi. Pada pertengahan babak kedua, RR United melancarkan serangan cepat melalui umpan terukur.
Penyerang mereka berhasil melewati barisan pertahanan BPPP Tandurusa dan melepaskan tembakan akurat yang tak terjangkau kiper, sehingga bola masuk ke gawang dan mengubah skor menjadi 3–2 untuk keunggulan RR United.
Namun, kegembiraan pemain dan pendukung RR United segera sirna. Hakim garis yang berada di sisi dekat posisi ofisial BPPP Tandursa langsung mengangkat bendera tanda pemain penyerang berada dalam posisi offside. Keputusan ini langsung memicu protes keras dari pemain dan ofisial RR United.
Penonton yang sebagian besar merupakan warga kota Bitung pun menyatakan keheranan. Gol yang dihasilkan dari kerja sama tim yang apik itu dinilai sah oleh penonton, namun justru dibatalkan oleh hakim garis.
Ratusan penonton meneriakkan protes dan menilai keputusan tersebut tidak tepat. Sebagian di antaranya bahkan menuduh hakim garis telah menerima suap.
Akibat gol yang dianulir, pertandingan dilanjutkan hingga waktu normal berakhir tanpa perubahan skor. Kedua tim harus menentukan pemenang melalui adu penalti, di mana RR United akhirnya kalah dan tersingkir dari babak 8 besar.
Keputusan tersebut itu dinilai mencoreng citra penyelenggaraan Youth Kampis Cup 2026, yang selama ini dikenal berjalan dengan tertib dan baik.
Para pemain dan ofisial RR United tampak sangat kecewa dan merasa kemenangan mereka dirampok akibat keputusan kontroversial.
"Kecewa dengan keputusan wasit dipertandingan ini," ujar salah satu suporter RR United meluapkan kekecewaannya.(Roni)
