Notification

×

Iklan

Wisata Sungai di Kolongan Beha Baru Kian Diminati Warga

Saturday, May 23, 2026 | 20:06 WIB Last Updated 2026-05-23T14:25:49Z
Bendungan di Sungai Dusun Saruangeng, Kelurahan Kolongan Beha Baru. Foto: V. Gansalangi
 

SANGIHE, Komentar.co -
Aliran sungai alami di Dusun Saruangeng, Kelurahan Kolongan Beha Baru, Kabupaten Kepulauan Sangihe, kini bertransformasi menjadi destinasi wisata alternatif bagi masyarakat setempat.

Pembangunan infrastruktur berupa jembatan penghubung dan bendungan air menjadi pemantik utama yang mengubah fungsi sungai tersebut dari area domestik menjadi pusat rekreasi warga.


Awalnya, ekosistem sungai ini hanya dimanfaatkan secara terbatas oleh warga Dusun Saruangeng dan para petani sekitar. Kawasan tersebut biasa digunakan sebagai tempat pembersihan hasil panen, pemenuhan kebutuhan air perkebunan, serta sarana mandi cuci kakus (MCK) bagi warga yang bermalam di ladang saat musim panen tiba.

Namun, pasca-pembangunan bendungan, area ini mulai dipadati pengunjung, terutama pada hari libur. Daya tarik utama objek wisata nonformal ini terletak pada lanskap alam yang terjaga, aliran air yang jernih, serta bantaran sungai yang bebas dari timbunan sampah rumah tangga.


Keasrian vegetasi rumput, pepohonan, dan bebatuan alami di sepanjang aliran sungai menjadi magnet bagi para pencinta fotografi outdoor hingga lokasi pengambilan foto pranikah (prewedding).

Meskipun letaknya berada dekat dengan permukiman padat penduduk, kesadaran ekologis masyarakat lokal menjadi faktor kunci terjaganya kebersihan lingkungan. Warga Dusun Saruangeng secara turun-turun merawat tradisi bebas sampah anorganik di kawasan sempadan sungai.

"Kami selalu menjaga alamnya dan berkoordinasi dengan pemerintah setempat dalam menjaga kebersihan maupun keseimbangan lingkungan sekitarnya," ujar salah satu warga Kelurahan Kolongan Beha Baru kepada Komentar.co.


Selain menjadi tempat rekreasi, sungai ini tetap mempertahankan fungsi ekologis dan sosialnya bagi komunitas lokal. Warga sekitar masih aktif memanfaatkan sungai untuk mencari komoditas konsumsi seperti udang, ikan air tawar, dan belut.

Secara kultural, bantaran sungai dengan air jernih ini juga kerap beralih fungsi menjadi area persiapan logistik memasak ketika warga setempat menggelar pesta adat atau hajatan besar.

Di samping itu, kawasan tepi sungai yang kondusif sering dimanfaatkan oleh kelompok remaja sebagai bumi perkemahan (camping ground). Hingga saat ini, pengelolaan area rekreasi tersebut belum dipungut biaya masuk atau masih berstatus gratis.


Wisatawan luar daerah yang ingin berkunjung disarankan untuk melapor atau berkoordinasi dengan perangkat pemerintah kelurahan atau warga sekitar guna memudahkan akses penunjukan lokasi.

Ke depan, masyarakat Kolongan Beha Baru berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sangihe dapat memberikan atensi khusus untuk melegalkan dan mengembangkan kawasan bendungan ini menjadi destinasi wisata berbasis lingkungan (ekowisata) yang resmi.

Warga juga mengimbau secara tegas agar setiap pengunjung yang datang, berkomitmen untuk tidak meninggalkan limbah plastik maupun sampah kaca demi menjaga keberlanjutan ekosistem sungai. (Vander)



×
Berita Terbaru Update